Diantara keempat film Lebaran yang tayang dalam waktu nyaris bersamaan, Perahu Kertas menjadi pilihan yang paling populer..
Selain fakta bahwa film ini beranjak dari novel laris berjudul sama hasil tulisan Dewi Lestari yang telah mengumpulkan basis penggemar yang cukup banyak, faktor Hanung Bramantyo sebagai nahkoda kapal menjadi daya tarik lain. Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, nama Hanung B sudah cukup menjadi jaminan akan kualitas dari sebuah film, walaupun anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
http://cinetariz.blogspot.co.id/2012/08/review-perahu-kertas.html
Mendekati hari perilisan, Perahu Kertas kian santer menjadi bahan pembicaraan di jejaring sosial setelah Maudy Ayunda dan Adipati Dolken diumumkan sebagai bintang utama dari film ini. Berbagai pro dan kontra pun bermunculan, umumnya berasal dari para penggemar versi novelnya. Ini tak lagi menjadi sesuatu yang mengherankan.
Memvisualisasikan sebuah novel populer dimana masing-masing pembaca tentunya sudah memiliki imajinasi sendiri tentang bagaimana seharusnya puluhan hingga ratusan ribu kata-kata ini diterjemahkan dalam bentuk media audio visual bukanlah perkara yang mudah. Hal ini telah menjadi rahasia umum. Si sineas mau tidak mau kudu siap menghadapi pujian maupun cacian dari fans garis keras novelnya setelah film beredar. The show must go on. Kita tentu tidak bisa memuaskan semua orang, bukan?
